Lokasi KKNP Kelautan 2013

Kuliah Kerja Nyata mahasiswa Ilmu Kelautan tahun 2013 akan dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Majene dan Polewali Mamasa.  Terdapat lima (5) kecamatan di Kabupaten Majene yang akan menjadi lokasi KKNP yaitu:

1. Banggae Timur

2. Banggae

3. Pamboang

4. Sendana

5. Malunda

Lokasi KKNP untuk Kabupaten Polewalimamasa akan berlangsung di enam (6) kecamatan berikut:

1. Binuang

2. Polewali

3. Matakali

4. Wonomulyo

5. Mapili

6. Campalagian

Berikut disajikan pembagian wilayah kecamatan di Kabupaten Polewali mamasa

lokasi kkn kelautan 2013 polmasdownload gambar dalam format pdf disini–> kknp kelautan 2013 polmas

Pembagian wilayah desa di Kecamatan Binuang disajikan oleh gambar berikut

lokasi kkn kelautan 2013 polmas binuangdownload gambar dalam format pdf disini–> kknp kelautan 2013 polmas binuang

lokasi aktual desa-desa KKNP ilmu kelautan untuk kabupaten Polman dapat dilihat pada gambar berikut

lokasi aktual kknp polmandownload gambar dalam format pdf disini–>map lokasi aktual desa KKNP

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar

Artikel Tentang Pemetaan Bentik dan Batimetri Perairan Dangkal

Beberapa Tulisan yang telah diterbitkan pada Jurnal Nasional dapat di unduh disini

1-Bathymetric Mapping Using SPOT Satellite … file pdf –> 2009 JKN 1

2-Zonasi Geomorfologi dan Koreksi Kolom Air untuk Pemetaan Substrat Dasar Menggunakan Citra Quickbird …  file pdf –> 2012 JPTK mei

3-Aplikasi Citra Quickbird untuk Pemetaan 3D Substrat Dasar di Gusung Karang …  file pdf –>2012 Semnas GEOMATIKA

4-Evaluasi Mosaik Citra Video untuk Validasi Peta Citra Terumbu Karang … file pdf –> Torani 23(1) April 2013

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

TATA RUANG WILAYAH SULAWESI SELATAN

SPATIAL PLANNING OF SOUTH SULAWESI

(dikutip dari Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sulsel 2009~2029)

Sistem Perkotaan dan Kawasan Andalan

Berdasarkan PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional sistem perkotaan di wilayah Sulsel ditentukan sebagai berikut:

       a. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)

Metropolitan Mamminasata terdiri dari Kota Makassar, Kota Maros, Kota Sungguminasa dan Kota Takalar ditetapkan sebagai PKN, terletak di pantai barat Sulsel. Mamminasata berfungsi sebagai: pusat jasa pelayanan perbankan; pusat pengolahan dan atau pengumpul barang, simpul transportasi udara maupun laut, pusat jasa publik seperti pendidikan tinggi dan kesehatan, berdaya dorong pertumbuhan untuk wilayah sekitarnya, dan menjadi pintu gerbang internasional terutama jalur udara dan laut.

       b. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)

Watampone (Kabupaten Bone) dan Kota Palopo yang terletak di pantai Timur Sulsel, merupakan Pusat Kegiatan Wilayah.  Kota-kota lain yang menjadi PKW adalah Kota Parepare, Barru, Pangkajene yang terletak di pantai Barat Sulsel, serta  Jeneponto dan Bulukumba yang terletak di pantai Selatan. Pemerintah Pusat melalui Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinator Industri dan Perdagangan telah mendukung Selayar sebagai pusat distribusi kebutuhan bahan pokok KTI.  Saat ini Selayar merupakan PKW, yang pada jangka panjang akan ditingkatkan menjadi PKN. 

        c. Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

PKL di wilayah Sulsel adalah Malili, Masamba, Toraja Utara, Makale, Enrekang, Pangkajene, Sengkang, Soppeng, Sinjai, Bantaeng, Watansawitto, Belopa, Benteng, dan Pamatata. 

Mengacu pada Perda No 9 Tahun 2009 tentang RTRWP Sulawesi Selatan, Teluk Bone dan sekitarnya merupakan kawasan andalan dengan sektor unggulan  perikanan, pariwisata dan pertambangan.  Daerah Bulukumba-Watampone dan sekitarnya merupakan kawasan andalan dengan sektor unggulan pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan.

Pola Ruang Provinsi

Secara keseluruhan kawasan  lindung di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 2.083.950 hektar, atau 44,96% dari total luas wilayah daratnya.  Rincian fungsi kawasan adalah sbb:

-Budidaya : 1.909.226  Ha

-Hutan Produksi : 641.846 Ha

-Kawasan Lindung : 2.083.950 Ha

            Gambar. Struktur Ruang Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028
Potensi perikanan tangkap di Teluk Bone mencapai 144.320 ton/tahun, atau 23% dari potensi total Sulawesi Selatan.  Lokasi pengembangan rumput laut di pantai timur Sulawesi Selatan terdapat di Kabupaten Sinjai seluas 335 ha dan di Kabupaten Bulukumba seluas 857,89 ha. Lokasi-lokasi pengembangan komoditi udang di pesisir Teluk Bone terdapat di Kabupaten Bone seluas 8.401,13, ha dan Kabupaten Wajo seluas 9.100,43 ha.
Terdapat 33 kawasan strategis yang telah ditetapkan pada RTRWP Sulawesi Selatan, 5 di antaranya terdapat di pesisir Teluk Bone yaitu:
1)Kawasan Lumbung Beras dan Jagung di Kabupaten Bone seluas ±150.000 ha, Kabupaten Wajo ± 180.000 ha, Kabupaten Luwu  ±70.000 ha
2)Kawasan perkebunan, di Kabupaten Bone seluas ±220.000 ha, Kabupaten Bulukumba seluas ±75.000 ha, Kabupaten Luwu ±65.000 ha dan Kabupaten Wajo seluas ± 215.000 ha
3)Permukiman Adat Amma Toa Kajang di Kabupaten Bulukumba
4)Kawasan Penambangan Gas Bumi di Kabupaten Wajo
5)Kawasan Penambangan Minyak,  yaitu Blok Bone di Teluk bone,  Blok Bone Utara di  Kabupaten Luwu Utara, Luwu dan Palopo, Blok Sengkang di Kabupaten Wajo, Tana Toraja, Sidrap, Soppeng, Bone dan Kota Parepare, Blok Kambuno di laut Kabupaten Bone, Sinjai dan Bulukumba, Blok Selayar Kabupaten Bulukumba dan Selayar, dan Blok Karaengta di kabupaten Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar dan Selayar.

Kependudukan
Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 7.908.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.271.870 jiwa mendiami Kota Makassar.  Bila penduduk laki-laki dan perempuan disajikan menurut kelompok umur, terlihat distribusi kelompok umur menyerupai bentuk piramida.   Hal ini menunjukkan jumlah penduduk berusia muda lebih besar daripada penduduk berusia tua.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar

BENTHIC SUBSTRATE AND SHALLOW WATER BATHYMETRIC CHARACTERIZATION BASED ON OPTIC SYSTEM

(Muhammad Banda Selamat, Indra Jaya, Vincentius P. Siregar, Totok Hestirianoto)

Most of benthic habitat maps recently produced from characterization process using water column correction (Lyzenga 1978; 1981; 2006). Bias may occur on attenuation coefficient ratio estimated from water column correction method (Maritorena 1996). This bias then contribute to thematic accuracy of bottom substrate images. The purpose of this study are to improve previous method by produce higher thematic accuracy  of benthic habitat map, and use this result as input to build 3D benthic substrate bathymetric model. This study uses geomorphologic spatial zonation (Mumby 1999; Blanchon 2011) to improve thematic accuracy of bottom substrate maps that produced from water column correction method.  Quickbird image pixel values were converted to the top of atmosphere radiance (Krause 2003) and followed by water column correction to make bottom substrate map with three themes namely sand, seagrass and coral reef.  Field data were grouped using Bray Curtis method (Clarke & Gorley 2006) and become basis of image reclassification.  Geomorphological profile was extracted from green and red composite images, refer to a bathymetric survey. These combined approaches were significantly proved to improve thematic accuracy up to more than 20%.  Bathymetric estimation model then was build from regression analysis between 5700 sounding data and combination of green and red channel of quickbird. The model has root mean square error (rmse) 0,4 m and coefficient determination 94%.  The fusion of sand bathymetric image and sounding data result on 3D bathymetric model of Karang Lebar with mean error 0,4 m and  rmse 0,9 m.  Flow data for this study is shown in Figure 1.

Dipublikasi di Pemetaan Batimetri | Tag | Tinggalkan komentar

2D Coordinate Transformation

Transformasi koordinat adalah konversi dari satu sistem koordinat dua dimensi (x, y) ke sistem koordinat 2D yang lain (x’, y’). Ada 3 komponen transformasi: 1) translasi sumbu, yang memindahkan titik asal, 2) skala dan, 3) rotasi sumbu, putaran salib sumbu pada titik asal

1 Translasi
Perhatikan Gambar 1, Salib sumbu x, y akan ditranslasikan ke salib sumbu x’,y’ sehingga diperoleh hubungan :

2 Skala
Misalkan ada dua titik A, B yang menjadi sekutu pada dua sistem koordinat, pada sistem pertama titik-titik tersebut menghubungkan garis AB dan pada titik kedua menghubungkan garis ab. Jika AB ≠ ab maka untuk konversi koordinat sistem yang satu ke yang lainnya harus digunakan faktor skala m = ab / AB atau dapat dinyatakan bahwa :

3 Rotasi
Perhatikan Gambar 2  Diasumsikan titik sumbu kedua sistem adalah sama yaitu O, akan tetapi sumbu koordinat telah diputar sebesar sudut q, sedemikian sehingga OX menjadi OX’.

Misalkan rotasi yang terjadi searah dengan jarum jam :
bila

Apabila rotasi sumbu berlawanan dengan arah jarum jam, tanda yang digunakan adalah kebalikan dari persamaan di atas.

Transformasi koordinat melibatkan ketiga macam aspek
Umumnya transformasi melibatkan rotasi, skala dan translasi titik sumbu. Sudah menjadi kesepakatan untuk menempatkan ketiga macam transformasi tersebut dalam derajat yang sama. Bila diasumsikan rotasi searah jarum jam, transformasi koordinat sebagai akibat rotasi dan skala adalah:


Transformasi Koordinat Metode Helmert
Persamaan transformasi Helmert adalah

Contoh soal

Suatu lahan tambak diketahui batas-batasnya dalam sistem koordinat lokal (lihat tabel). Gunakan metode helmert untuk menentukan koordinat titik D, E, F, G, H dalam sistem global

Dipublikasi di Konsep Pemetaan | Tinggalkan komentar

The Polygon

Metode poligon adalah salah satu cara penentuan posisi horisontal banyak titik, dimana titik satu dan lainnya dihubungkan oleh pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik. Poligon terbagi menjadi: poligon terbuka, tertutup, bercabang atau kombinasinya. Geometri poligon terbuka dapat dilihat pada ilustrasi berikutTitik A adalah titik referensi yang biasanya telah diketahui atau ditetapkan koordinatnya. Dititik ini kemudian alat ukur disetting nol ke arah utara magnetik atau utara lainnya dan kemudian teropong alat diarahkan ke target 1 sehingga diperoleh sudut jurusan A1. Dengan pengamatan benang silang atau metode lain, jarak dA kemudian dapat diukur. Selanjutnya alat ukur dapat berpindah ke titik 1, mengukur sudut  B1, jarak d12 dan seterusnya.

Suatu kerangka poligon terbuka digambarkan sebagai berikut:

Syarat-syarat yang berlaku pada poligon terbuka ini adalah:
1) Syarat geometrik absis,

2) Syarat geometrik ordinat,

3) Syarat geometrik sudut jurusan

Dipublikasi di Konsep Pemetaan | Tinggalkan komentar

The Accuracy Test for GPS 76 CSX

Uji Akurasi GPS 76 csx

Pendahuluan
GPS 76 csx adalah gps tipe navigasi yang cukup populer saat ini. Selain harganya terjangkau, sistem menu yang memudahkan cukup membuat banyak konsumen rela membuka dompet untuk memilikinya.

Selain digunakan untuk keperluan navigasi secara umum, baik di darat maupun di laut, banyak kalangan akademisi juga menggunakan gps 76 csx untuk keperluan pencatatan posisi di lapangan. Survei terumbu karang, lamun atau mangrove, treking arus atau jalan misalnya paling sering menggunakan gps tipe ini. Penentuan posisi titik ikat pada saat ground cek citra satelit juga tidak jarang menggunakan gps 76 csx.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah seberapa akuratkah posisi yang ditampilkan gps tersebut?

Metode Kerja
Untuk menjawab pertanyaan diatas, suatu garis basis dibuat dengan menggunakan pita ukur sedemikian sehingga posisi dua titik berurutan terpisah sejauh 30 meter. Pada masing-masing titik tersebut ditempatkan GPS 76 csx yang merekam sinyal secara simultan (Gambar 1).

Waktu pengamatan posisi pada masing-masing GPS di lakukan selama 30 menit. Metode penentuan posisi titik dilakukan secara statik absolut. Perekaman data posisi oleh kedua GPS diatur agar berulang secara otomatis dan simultan setiap interval 5 detik. Selama 30 menit pengamatan diperoleh data titik sebanyak 60/5*30=360 data untuk masing-masing GPS atau total 960 data dalam satu kali seri pengamatan. Data titik dari kedua GPS kemudian diunduh menggunakan kabel USB. Variasi pergeseran posisi diplot pada bidang kartesian dan jarak kedua titik (yang menjadi garis basis) dapat dihitung dengan menggunakan rumus phytagoras. Evaluasi akurasi posisi GPS ini dilakukan sebanyak dua ulangan (lokasi) yaitu di kampus dan di Pulau Pramuka, kepulauan seribu.


Gambar 1. Garis Basis untuk Pengamatan Posisi

Hasil Uji
Plotting pergeseran dua titik di kampus (ulangan 1) dari masing-masing GPS disajikan pada Gambar 2. Plotting pergeseran titik di Pulau Pramuka dari kedua GPS yang sama (ulangan 2) disajikan pada Gambar 3.

Gambar 2. Pergeseran Posisi Titik GPS dari Pengamatan Statis di Kampus. Kedua GPS memiliki karakter pergeseran posisi yang berbeda. Pergeseran posisi rata-rata kurang dari 1.5 meter (dari nilai awal pengamatan)

Gambar 3. Pergeseran Posisi Titik GPS di Pulau Pramuka. GPS 1 memiliki pergeseran yang signifikan (gambar kiri) dibandingkan GPS 2. Pergeseran posisi rata-rata keduanya lebih besar dari 30 meter.

Hasil pengukuran posisi titik secara statik absolut memperlihatkan pergeseran posisi yang direkam oleh kedua GPS bervariasi menurut lokasi dan waktu. Di kampus, rata-rata pergeseran posisi kedua GPS kurang dari 1.5 meter (Gambar 2), namun di Pulau Pramuka rata-rata pergeseran posisi mencapai ~35 meter dan ~75 meter (Gambar 3). Dari sisi keterlindungan, Pulau Pramuka sebenarnya jauh lebih terbuka daripada kampus sehingga menurut teori seharusnya memiliki akurasi yang lebih baik

Ditinjau dari statistik hitungan jarak basis di kampus (Tabel 1), diketahui bahwa GPS navigasi yang digunakan memiliki nilai kesalahan pengukuran jarak sekitar 5.4% atau memiliki nilai akurasi sebesar 94.6%. Pada setiap pengukuran jarak sejauh 100 meter, maka dapat dikatakan nilai kesalahan jarak mencapai 5 hingga 6 meter. Kesalahan jarak ini dapat mencapai 50 hingga 60 meter, pada pengukuran posisi dua titik yang terpisah sejauh 1000 meter.

Tabel 1. Hitungan Jarak Titik Basis di Kampus

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akurasi
Menurut Letham (1999), GPS navigasi dapat menunjukkan posisi dengan nilai kesalahan antara 15 hingga 100 m. Jika untuk keperluan navigasi, akurasi seperseratus ini sudah sangat memadai. Dalam proses penentuan posisi, alat GPS harus mengukur jaraknya paling tidak dari 4 satelit oleh karena keterbatasan jenis pembangkit waktu (clock) yang dimilikinya. Pengukuran jarak dilakukan dengan cara mengukur waktu yang diperlukan oleh sinyal GPS untuk merambat dari satelit ke alat penerima. Setiap satelit dilengkapi dengan ‘jam atom’ berakurasi sangat tinggi sebagai pembangkit waktu, namun pembangkit waktu pada alat penerima GPS tipe navigasi memiliki kualitas yang lebih rendah sehingga memiliki akurasi yang juga jauh lebih rendah. Selama pengukuran jarak tersebut, setiap variasi kecepatan sinyal dan lintasannya akan menjadi sumber bagi kesalahan posisi. Kesalahan yang muncul umumnya berkisar pada angka ±15 meter untuk total 95% waktu pengamatan. Kontribusi kesalahan posisi tersebut berasal dari: efek ionosferik, ±10 meter; kesalahan ephemeris, ±2.5 meter; kesalahan pembangkit waktu, ±2 meter; distorsi jalur jamak, ±1 meter; efek troposferik, ±0.5 meter; kesalahan numerikal, ±1 meter atau kurang (Manley, 2008).

Skala, Resolusi dan Akurasi
Menurut Klaar dan Amhar (2001) untuk skala peta 1:50.000, diperlukan resolusi raster dan atau akurasi vektor lebih baik dari 10 meter. Hubungan antara skala, resolusi dan akurasi ini disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hubungan Skala, Resolusi dan Akurasi (Klaar dan Amhar, 2001)

Uji akurasi posisi dari gps 76 csx di atas memberikan beberapa nilai akurasi titik: 1.5 meter di kampus dan 35 hingga 75 meter di Pulau Pramuka. Bila nilai-nilai tersebut dimasukkan ke hubungan skala dan akurasi pada Tabel 2, maka didapatkan skala peta yang sesuai adalah 1:7.500 untuk nilai akurasi titik 1.5 meter, 1:175.000 untuk akurasi titik 35 meter dan 1:375.000 untuk akurasi titik 75 meter. Bila dirata-ratakan maka skala peta yang diperoleh adalah 1:186.000 (pembulatan). Beranjak dari sini, sepertinya gps 76 csx cukup memadai untuk pemetaan pada skala 1:100.000 hingga 1:200.000. Namun bila pergeseran titik pengamatan dalam selang waktu tertentu bisa dipertahankan kurang dari 10 meter, maka posisi yang diperoleh sepertinya masih cukup akurat untuk di plotkan pada peta skala 1:50.000.

Dipublikasi di Konsep Pemetaan | Tinggalkan komentar